Sekarang Kita Cerita tentang Lord Matuidi

Nyonya Tua – Kalau menyebut Lord, sudah barang tentu yang terpikir di kepala kalian adalah Matuidi. Bener kan? Ngaku aja deh. Kenapa mimin tahu? Ya, sama. Di kepala mimin juga yang muncul sosok yang sama. Khas dengan goyangannya yang ini.

Goyangan babang tamvan Blaise Matuidi

Goyangan babang tamvan Blaise Matuidi

Asik, kan goyangnya?

Mari kita mulai dari pertanyaan pertama.

Kenapa Matuidi disebut dengan Lord?

Jawaban jujurnya -menurut mimin sarimin- adalah karena banyak fans yang kesel. Kesel kenapa ia masih terus dimainkan sementara performanya (dianggap) biasa-biasa saja. Kesel kenapa masih menjadi pemain penting di sisi kiri gelandang tengah padahal di tempat yang sama Juve memiliki Rabiot, Ramsey, atau bahkan Bentancur jika mau dipaksakan.

Jawaban bohongnya, eh gak boleh bohong deh. Dosa.

Walaupun, sebenarnya, Matuidi ini gak jelek-jelek amat sih menurut mimin. Atribusi bertahannya masih sangat dibutuhkan dalam skema permainan Sarri, terutama dengan tenaga kuda yang mampu berlari naik turun dalam sepanjang pertandingan.

Baca Juga:   Barzagli di Balik Peningkatan Pesat Matthijs De Ligt

Atribut bertahan inilah yang membuat Matuidi spesial di Juve sebenarnya. Atribut yang sama tidak dimiliki Rabiot apalagi Ramsey. Kedua pemain ini memang mampu menambah daya gebrak serangan Nyonya Tua, namun bisa mengurangi keseimbangan tim.

Keseimbangan loh ya, kata kunci yang diinginkan Sarri dalam masa transisi kepelatihannya di Turin, setidaknya pada tahun pertama.

Kenapa Matuidi ini sangat penting dalam skema Sarri?

Ini sangat berhubungan dengan keberadaan Ronaldo di depannya. Ronaldo sudah berumur 35 tahun. Bukan hal yang bijak untuk memintanya naik turun membantu pertahanan tim. Dengan umurnya yang sudah segitu, cara paling baik memanfaatkan kemampuan Ronaldo adalah memintanya berada sedekat mungkin dengan gawang lawan.

Sementara di sisi lain, taktik Sarri sangat mementingkan mobilitas pemain. Setiap pemain dituntut untuk selalu bergerak mendekati bola. Skema ini berlaku baik saat bertahan maupun menyerang.

Dengan usia Bang Dodo yang sudah uzur, hal itu mustahil dilakukan. Di situlah Matuidi menjadi sosok yang tak tergantikan. Matuidi bertugas mengcover tugas bertahan yang tak mungkin dibebankan lagi kepada Ronaldo.

Baca Juga:   Kenapa Juventus Dijuluki Si Nyonya Tua?

Itulah sebabnya Matuidi akan terus menjadi salah satu pemain penting dalam skema Sarri meski kalian para fans terus menggerutu. Ya termasuk mimin juga sih. Ya gimana, orang Matuidi kadang passingnya sering nipu lawan dan kawan sendiri.

Tapi bagaimana pun, Matuidi ini sebenarnya kurang mendapat respek yang semestinya dari para fans. Semua hasil buruk Juve ditimpakan kepada dia seorang. Padahal ketika Juve kalah, yang tampil jelek bukan cuma Matuidi, tapi seluruh tim juga.

Lihat misalnya ketika Juve kalah dari Lazio atau Napoli. Ya memang Matuidi tak tampil istimewa dalam laga itu, tapi kan bukan dia seorang yang tampil buruk. Hampir seluruh tim berada di bawah performa mereka.

Baca Juga:   Ketika Penalti Ronaldo Menyelamatkan Si Nyonya Tua

Lagi pula, tanpa Matuidi, lini tengah Juventus kadang tak lebih baik juga. Pada saat kalah dari Hellas Verona – iya, klub medioker itu- Matuidi bahkan tak menyentuh lapangan sama sekali. Posisinya saat itu diisi oleh Bentancur.

Apa yang mimin ingin katakan sebenarnya adalah bahwa Matuidi sebenarnya pantas mendapat kredit yang lebih dari fans Juve. Ia pantas mendapat support dari pendukung klubnya sendiri, sama halnya seperti para pemain lain juga. Matuidi pantas mendapat pujian ketika tampil baik dan mendapat dukungan ketika tampil di bawah performa.

Tapi tetap aja sih. Mimin lebih ingin sering melihat Rabiot di posisi yang sama. Hehe.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *