“Saya Tak Bisa Mengkhianati Juventus”

Saya Tak Bisa Mengkhianati Juventus

sinyonyatua.com –  “Saya tak bisa mengkhianati Juventus,” Marchisio kembali menegaskan alasannya. Ini adalah kesekian kali ia mempertegas jawabannya ketika ia ditanya mengapa memilih Rusia sebagai pelabuhan terakhir dalam karirnya.

Marchisio meninggalkan Juventus pada 2018. Bukan perpisahan yang diinginkan oleh seorang yang mengabdikan hampir seluruh karirnya untuk Juve. Tak ada perayaan, tak ada iringan fans, tak ada ucapan selamat tinggal yang memadai.

Ia pergi seperti seseorang yang terusir dari rumahnya sendiri. Dalam senyap. Dalam sepi. Sunyi. Sendiri. Sesuatu yang mengingatkan kita pada situasi Del Piero delapan tahun yang lalu.

Tapi toh Il Principino pergi dengan tegar. Tak ada drama dan menye-menye. Ia meninggalkan Italia untuk berkarir di Rusia bersama Zenit St Peterburgh.

Di Zenit pun ia hanya singgah sebentar. Hanya 10 bulan. Hanya sempat bermain dalam 15 pertandingan. Cedera kambuhan membuat Marchisio pensiun dini di awal usia 30 tahunan.

Baru-baru ini, Marchisio kembali berbicara soal kenangannya di Turin, termasuk alasannya memilih Zenit ketika itu. Ia diwawancarai oleh Footbal Italia melalui tayangan streaming yang disiarkan langsung via instagram.

Marchisio menegaskan pilihannya ke Rusia adalah karena ia tak bisa bermain untuk tim lain di Italia.

Baca Juga:   De Ligt Minta Dijual ke Real Madrid?

“Saya tak bisa bertahan di Serie A. Saya tak mungkin mengkhianati Juventus,” katanya.

“Ini bukan hanya karena apa yang telah diberika Juve dan Juventini untuk saya, tapi juga karena semua apa yang telah saya alami di Juventus.”

Jika kita melihat ke belakang, Juve dan Marchisio memang seperti ikatan taktir yang saling menyatu. Berasal dari Turin, Marchisio telah menjadi seorang Juventini sejak masih kecil. Ia tumbuh dengan melihat Juve menjadi salah satu tim terbesar di Italia, dan menancapkan pengaruhnya di Eropa.

Apa yang lebih membanggakan bagi seorang putra daerah selain membela klub daerahnya sendiri, lalu kemudian menjadi legenda di klub ini.

Marchi kecil menimba ilmu sepak bola di akademi Juve. Mungkin tak banyak putra daerah yang berhasil menembus tim utama, tapi Marchi adalah satu di antara yang sedikit itu.

Peruntungannya memang tak baik-baik amat. Ia menembus tim utama ketika Juve sedang berada di Serie B, ketika tim ini tersangkut kasus Calciopoli. Debut Marchi bersama Juve diawali di kasta kedua sepak bola Italia.

Tapi toh dari sinilah jalan panjang Marchisio sebagai legenda Juventus dimulai. Dari sebuah debut di pertandingan tak penting, ia kemudian melangkahkan kakinya untuk bermain dalam lebih dari 400 pertandingan untuk Juventus. Ia pun termasuk salah satu pemain yang paling bermain untuk Si Nyonya Tua.

Baca Juga:   Sekarang Kita Cerita tentang Lord Matuidi

Selama berkarir sebagai pemain, tak sekali dua kali godaan datang. Meski pada awal karirnya ia lebih banyak melihat Juve bertarung sebagai klub medioker – di Serie B, lalu empat tahun setelah kembali ke Serie A- Marchisio tetap dianggap sebagai salah satu gelandang muda terbaik di Italia. Tawaran demi tawaran datang. Tapi ia kukuh bertahan membela I Bianconerri.

Hingga akhirnya datanglah masa-masa kebangkitan. Juve merekrut Conte sebagai pelatih, lalu kemudian mendatangkan Pirlo, Pogba, dan Vidal.

Inilah pasangan terbaik Marchisio di lini tengah. Inilah masa-masa terbaik dalam karirnya sebagai pemain.

Kuartet lini tengah ini membawa Juve mendominasi Serie A. Mereka menjadi mesin kebangkitan Nyonya Tua dari tidur panjangnya. Mereka menjadi salah satu kuartet terbaik di dunia ketika itu.

Mereka membawa tim ini hingga ke final Liga Champion, tapi kemudian tak kuasa menahan laju Barcelona yang saat tu begitu digdaya-digdayanya.

Lalu satu per satu pemain itu meninggalkan Juve, dan Marchisio kukuh bertahan.

Lalu cedera demi cedera meliputi karirnya. Sentuhan terbaiknya hilang. Posisinya sedikit demi sedikit tergusur. Hingga akhirnya Juve meninggalkannya, seperti pemain yang tak pernah memberikan kontribusi penting dalam jalan panjang Si Nyonya Tua.

Baca Juga:   Calon Bintang Baru Kita Itu Bernama Tonalli

Marchisio meninggalkan Juve seperti seorang pesakitan. Terbuang seperti pemain yang tak pernah memberikan kontribusi penting bagi timnya.

Apakah Marchiso menaruh dendam? Tidak. Cintanya terlalu besar untuk Si Nyonya Tua. Ia bahkan tak bisa menerima pinangan tim lain di Italia.

“Saya tak bisa bertahan di Serie A, saya tak bisa mengkhianati Juventus.”

Karena itulah ia kemudian memilih negara yang jauh dari tanah kelahirannya. Ke Rusia, bersama Zenit St Petersburgh.

“Itu adalah pengalaman untuk seluruh keluarga saya, untuk anak-anak saya yang pergi sekolah (di Rusia), untuk istri saya. Istri saya tidak memiliki banyak teman yang bisa mengunjunginya di rumah. Ia tidak bisa berbahasa Rusia.”

“Di dalam tim saya berkomunikasi dengan bahasa Inggris dan Spanyol, karena ada banyak pemain Argentina di sana. Tapi di dalam lapangan lebih mudah, kami berbicara dengan kaki dan kepala kami.”

Marchisio kini sudah kembali ke Italia. Ia sudah meninggalkan sepak bola, tapi cintanya untuk Juve akan tetap abadi.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *