Saga Bek Tengah Si Nyonya Tua

Saga Bek Tengah Si Nyonya Tua

Siapa yang akan jadi bek utama?

sinyonyatua.com – Liga Italia akan segera kembali dan mungkin, Maurizio Sarri akan merasakan kebingungan yang luar biasa untuk menentukan starting elevennya. Terutama di posisi bek tengah, di mana semua pemain posisi ini sudah kembali siap berlaga. Inilah sisa kompetisi yang akan menjadi saga bek tengah Si Nyonya Tua.

Sebelum liga ditunda karena corona, Sarri hampir tak pernah mendapati semua beknya fit dalam satu waktu yang bersamaan. Hampir sepanjang musim ini, nyaris selalu ada bek Juve yang berurusan dengan cedera.

Ketika Serie A 20219/2020 dimulai, Sarri memiliki kemewahan dengan lima bek tengah. Mereka adalah Chiellini, Bonucci, dan Rugani yang sudah menjadi pemain Juve selama bertahun-tahun dan dua rekrutan anyar dalam diri Matthijs de Ligt dan Merih Demiral.

Dengan nama besar dan pengalaman, Chiello dan Bonucci sudah jelas menjadi dua bek utama. De Ligt dan Demiral memang menjanjikan masa depan, tapi mereka sadar saat itu mereka masih harus berada dalam daftar antrean untuk menjadi bek utama Si Nonya Tua. Bahkan dengan empat bek itu pun, Juve masih memiliki Rugani yang akan membuat perebutan posisi di zona ini semakin memanas.

Liga dimulai dengan Chiello dan Bonucci sebagai duet di jantung pertahanan. Tapi duet ini tak bertahan lama. Chiellini mengalami cedera ACL pada awal musim yang membuat ia absen lebih dari enam bulan.

Baca Juga:   De Ligt Minta Dijual ke Real Madrid?

Dari sinilah De Ligt pelan-pelan tumbuh. Di awal memang sempat meragukan dengan serangkaian blunder, tapi De Ligt pelan-pelan menunjukkan dirinya sebagai salah satu calon bek tengah terbaik di masa depan.

Ada momen ketika ia melakukan blunder, memang. Ada momen ketika ia melakukan kesalahan antisipasi. Ada momen ketika Sarri lebih mempercayakan Demiral ketimbang bintang muda asal Belanda ini.

Tapi De Ligt tetap tumbuh dan semakin menyegel tempatnya di jantung pertahanan Juventus. Dan jika ada faktor penting yang membuat De Ligt tumbuh sesuai ekspektasi, salah satunya adalah karena cedera Chiellini yang membuat satu posisi lowong menjadi miliknya.

Di sisi yang lain, Demiral juga memperlihatkan potensi. Ketika De Ligt ‘macet’, Sarri memberikan kesempatan bagi anak muda Turki ini. Ia membayar kesempatan itu dengan penampilan memikat, mengingatkan kita kepada bek legendaris Juve yang terkenal spartan dan tanpa tedeng aling: Paulo Montero.

Bahkan beberapa kali pula Sarri lebih mempercayakan Demiral ketimbang De Ligt. Ini menunjukkan bahwa pemain yang satu ini memang memiliki potensi.

Sayang, seperti Chiellini, ketika mulai menyegel posisi di lini bawah, Demiral mengalami cedera panjang. Harusnya ia tak akan bermain sampai akhir musim. Tapi corona membawa berkah tersembunyi untuk sang pemain.

Dengan lima pemain yang memperebutkan dua posisi bek tengah, hampir bisa dibilang pelatih manapun akan kesulitan memberikan jam bermain yang memuaskan bagi semua pemain.

Baca Juga:   Pogba, Jorginho, Tonali; Siapa yang Akan Juve Pilih?

Tapi kondisi ini tak harus dialami Sarri musim ini. Juve memang memiliki komposisi bek yang gemuk, tapi cedera membuat porsi bermain mereka tetap terjaga. Sarri tetap bisa saling bergantian memberikan jadwal bermain untuk para bek tengah sebelum liga ditunda karena pandemi.

Namun bagaimana jadinya jika kelima pemain ini berada dalam kondisi yang fit dalam satu waktu bersamaan? Kondisi inilah yang akan dihadapi Juventus setelah liga dimulai kembali pada 22 Juni mendatang. Untuk pertama kalinya sejak awal musim, Chiellini, Bonucci, Rugani, De Ligt, dan Demiral akan berada dalam kondisi yang siap tempur.

Tentu ini kabar baik karena tak ada satu pun klub yang mengharapkan pemainnya cedera. Tapi bukankah ini juga berpotensi merusak harmoni tim ketika ada pemain yang tak mendapat porsi merumput sebagaimana mestinya?

Inilah saga bek tengah Si Nyonya Tua yang harus diselesaikan oleh Maurizio Sarri.

Rotasi Adalah Kunci

Ada kabar buruk, tentu ada kabar baiknya. Kabar baiknya adalah bahwa ketika kompetisi dimulai kembali 22 Juni nanti, jadwal Liga Italia akan benar-benar padat. Setiap tim akan bermain hanya dengan selisih tiga atau empat hari dari satu pertandingan ke pertandingan lainnya. Itu belum termasuk jadwal Coppa Italia bagi tim yang masih berjuang di kompetisi itu.

Baca Juga:   Ronaldo Hengkang Akhir Musim Ini?

Juve akan mengawali kampanye mereka pada 22 Juni. Lalu mereka akan kembali bermain 30 Juni. Lalu 4 Juli, dan seterusnya. Dari 22 Juni hingga 23 Juli, mereka akan bermain dalam tak kurang dari 9 pertandingan.

Baca Juga: Jadwal Lengkap Juventus Setelah Corona

Masih ada potensi jadwal tambahan. Juve masih harus memainkan semifinal Coppa Italia dan final jika mereka cukup beruntung. Itu masih belum termasuk jadwal Liga Champion yang rencananya akan dimulai kembali pada Agustus nanti.

Jadwal padat ini bisa memberikan keuntungan sekaligus kerugian. Namun bagi tim dengan kedalaman skuad seperti Juventus, harusnya inilah saat-saat Juve menerima keuntungan sebesar-besarnya untuk kembali menggenggam trophi Serie A dan Coppa Italia musim ini.

Tidak ada tim yang memiliki kedalaman skuad seperti Juventus di Liga Italia. Tidak Lazio, tidak juga Inter Milan. Jadi, saat kaki-kaki enerjik anak Lazio letih dengan jadwal kompetisi yang begitu menyebalkan, Si Nyonya Tua harusnya tetap mampu berjalan tanpa suatu kendala.

Sarri akan pusing menetukan siapa dua bek terbaiknya. Tapi ini adalah jenis kepusingan yang diinginkan oleh semua pelatih klub Serie A saat ini, terutama ketika mereka tak mungkin memaksa dua pemain yang sama untuk berlari-lari dalam 9 pertandingan hanya dalam jarak waktu 30 hari.

Maka mari kita lihat bagaimana Tuan Sarri mengelola kepusingan yang menyenangkan ini.

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *