Del Piero dan Sejumput Kisah tentang Loyalitas

Liburan musim panas 2012 seharusnya menjadi momen yang membahagiakan untuk Juventini. Juventus baru menjuarai liga Italia. Ini gelar pertama selepas bencana calcipoli. Akhir dari puasa lima tahun tanpa trophi.

Scudetto itu terasa spesial karena berarti Juventus telah kembali ke trah yang seharusnya, jalan di mana mereka mestinya berada. Tidur panjang dan mimpi buruk itu sudah berlalu. Bayang-bayang suram berganti dengan harapan yang cerah dan indah. Apa yang bisa mengganggu mimpi seindah ini?

Sialnya, riang hanya di permukaan. Masygul menyembul di antara suka, cita, dan euforia.

Sang ikon, lambang dari perjuangan dan nama besar Juventus dalam hampir dua dekade terakhir, Alessandro Del Piero, dipastikan meningalkan Si Nyonya Tua. Dipaksa hengkang mungkin frasa yang lebih tepat, mengingat bukan kehendaknya untuk meninggalkan klub yang bermarkas di Turin itu.

Sembilan belas tahun pengabdian berakhir dengan kesan yang kurang mengenakkan! Kontraknya berakhir dan manajemen memutuskan tak ada perpanjangan.

Sebenarnya kabar itu tak hadir secara tiba-tiba. Tidak, misalnya secara bim salabim dan Andrea Agnelli selaku puncak manajemen mengejutkan dunia dengan pengumumannya. Kabar tentang karir Del Piero yang akan segera tamat di Juventus sudah bersileweran dalam dua musim sebelumnya (2010-2011 dan 2011-2012) dan semakin kencang ketika mendekati kenyataan.

Alessandro del Piero, legenda Juve

Il Bandiera, perlambang loyalitas untuk Juventus.

Nyatanya, tetap saja keputusan itu lebih pahit dari yang seharusnya.

Masalahnya adalah Del Piero terlalu besar untuk mengakhiri kontrak sebagai seorang pecundang. Loyalitasnya terlalu tinggi. Sembilan belas tahun pengabdian harusnya diapresiasi dengan layak, setidaknya dengan membiarkan ia pensiun di klub yang membesarkan dan dibesarkannya itu. Del Piero terlalu istimewa untuk diusir cara yang halus: kontrak yang tak diperpanjang.

Merunut jauh ke belakang, kisah Alessandro Del Piero dan Juventus bermula dari 1993. Ale, panggilan akrab Del Piero, datang ke Juve sebagai seorang anak muda dengan bakat memikat di kedua kakinya. Ia memiliki segala potensi. Ia adalah garansi akan masa depan gemilang. Juventus melalui Giampiero Boniperti memenangkan hati Ale dari Padova, mengalahkan AC Milan yang juga memiliki hasrat serupa untuk memilikinya.

Maka dari sinilah kisah ini tergurat.

Baca Juga:   Barzagli di Balik Peningkatan Pesat Matthijs De Ligt

Ale yang muda dan berbakat itu langsung mencuri perhatian pada musim perdananya. Ale gemilang pada musim kedua: membawa Juve meraih scudetto. Perdana baginya, dan pemupus sembilan tahun puasa gelar bagi Si Nyonya Tua

Ale kemudian makin impresif dengan menjadi aktor penting di balik gelar Liga Champion Juve satu tahun setelahnya.

Lalu…sembilan belas tahun berlalu dan kisah Ale bersama Juve akhirnya selesai. Ia tampil dalam 703 pertandingan di semua kompetisi, terbanyak dari siapa pun yang pernah mengenakan seragam kebesaran hitam putih. Dalam perjalanan karirnya sebagai pemain Juventus, meski lebih memiliki peran sebagai trequartista (sebagai pengatur serangan dan penyuplai bola bagi penyerang ‘klasik’) Ale toh mampu mencetak 289 gol, juga merupakan rekor pencetak gol terbanyak klub.

Sembilan belas tahun terlewatkan. Era berganti. Marcelo Lippi pergi digantikan Carlo Ancelotti, Fabio Capello, Didier Deschamps, Claudio Ranieri, hingga Antonio Conte. Nama terakhir bahkan merupakan kompatriot yang sama bersama bahu membahu berjuang dengan Del Piero demi Juventus di dalam lapangan. Lalu ketika Conte sudah pensiun dan kembali ke Juventus sebagai ‘arsitek’ di bangku cadangan, Ale masih berjuang sebagai prajurit di dalam lapangan.

Sembilan belas tahun terlampaui dan pemain datang dan pergi. Setelah belajar dari Roberto Baggio yang legendaris itu pada awal karirnya di Juve, Ale melewatkan masa-masa yang mengagumkan bersama Zidane dan Fillipo Inzaghi. Duetnya bersama David Trezeguet yang ditopang Nedved dan Camoranessi mungkin merupakan salah satu era terbaik yang pernah dimiliki I Bianconerri. Ale juga menjadi inspirasi bagi era baru yang mengawali kebangkitan Juventus pada 2011.

Perubahan Del Piero dalam 19 tahun membela Juventus

Dalam sembilan belas tahun itu pula, Ale turut menghibahkan delapan gelar scudetto, empat Italia Super Cup, dan masing-masing satu gelar satu Liga Champion, UEFA Super Cup, Piala Dunia antar Klub, dan Coppa Italia, dan Serie B.

Setidaknya, tujuh belas trophi juara berhasil disumbangkan ke dalam lemari koleksi gelar di Juventus Museum.

Dalam sepak bola modern, tak banyak pemain yang melampaui 15 tahun bersama satu klub yang sama. Ale termasuk yang sedikit itu. Dan melihat jatuh bangun Juventus, loyalitas Ale patut diapresiasi lebih.

Baca Juga:   Skuad Juventus Serie B, Dimana Mereka Sekarang?

Juve pernah tersodok ke palung yang sangat dalam ketika tersangkut kasus calcipoli. Klub ini didegradasi paksa ke Serie B, meski mengakhiri musim sebelumnya sebagai juara Serie A.

Pertama dalam sejarahnya sejak 1897, Juve harus bermain di kasta kedua!

Namun itu semua tak mempengaruhi loyalitas Ale. Saat bintang klub ramai-ramai ingin pergi, Del Piero kukuh bertahan. Ketika Zlatan Ibrahimovic dan Patrick Viera hengkang ke Inter Milan, Del Piero tak goyah. Waktu Gianluca Zambrotta, Lilian Thuram, hingga Fabio Cannavaro memutuskan pergi ke tanah Spanyol untuk tetap bermain pada level tertinggi, Del Piero tetap setia.

Saat itulah Ale muncul dengan pernyataan heroiknya. Inilah manifestasi loyalitas tertinggi sang kapten untuk klub. “Un vero cavaliere non lascia mai una signora,” atau dalam bahasa Inggrisnya “the gentlemen never leave his lady,”.  Seorang pria sejati tak akan meninggalkan kekasihnya.

Padahal ketika itu ia bebas memilih klub mana pun yang ia mau. Alex Ferguson menghubunginya secara langsung untuk meminta Ale bergabung dengan skuad bintang Man United. Zidane diutus khusus oleh manajemen Madrid untuk merayu sang  kapten, mengingat keduanya pernah menjadi kompatriot penting di masa lalu. Arsenal dan sejumlah klub raksasa Eropa lainnya antre di belakang.

Tap Ale tetap menampik. Sebagai kapten klub, sebagai pemegang nomor 10, ia kukuh dengan sikapnya. Ia bertahan! Sikap itulah yang kemudian menginspirasi Buffon, Camoranessi, Nedved, dan Trezeguet untuk ikut bertahan. Bersama-sama, mereka kembali berjuang dari level terendah.

Butuh bertahun-tahun bagi Juventus untuk bisa benar-benar bangkit setelah kasus calciopoli itu. Tapi seperti saat mengakhiri packelik sembilan tahun tanpa gelar scudetto pada 1995, Ale kembali menginspirasi tim ini bangkit pada 2012.

Ale menjadi inspirasi kebangkitan Juventus pada awal sekaligus pada akhir karirnya di klub itu. Fans mungkin tak akan lupa golnya yang amat menentukan pada laga kontra Lazio pada giornata 32 tahun kompetisi 2011/2012. Sebuah gol dengan tendangan bebas berkelas dan disusul selebrasi menjulur lidah yang khas ala Del Piero.

Baca Juga:   Masa Karantina Pemain Juventus Sudah Selesai, Tapi

Gol itu, dengan tidak mendiskreditkan kontribusi tim sepanjang musim, memberikan suntikan modal luar biasa pada pekan-pekan kritis Liga Italia musim itu.

Jersey classic Juventus dengan nama Del Piero

Legends

Saat Ale hengkang pada 2012, ia setidaknya tidak hengkang karena tergoda dengan uang yang disodorkan oleh tim-tim lain yang lebih mapan secara finansial.

Ia tidak pergi saat klub dirundung masalah. Ale tetap di Juventus bahkan pada masa paling emasnya sekalipun, saat ia bisa memilih klub manapun untuk ia bela. Ia bertahan dan menjadi ikon loyalitas, saat klub dirongrong sejarah paling kelam sejak klub ini dibentuk.

Del Piero adalah semacam perlambang kesetiaan dan ikatan filantropi dalam panggung sepak bola.

Maka adalah hal yang wajar ketika laga terakhir Del Piero di Juventus Stadium, seisi stadion bergemuruh menyanyikan lagu untuk sang kapten. Un capitano ce solo un capitano, … un capitano, …ce solo un capitanoHanya ada satu kapten… satu kapten… hanya ada satu kapten.

Loyalitas dan cinta Del Piero bahkan tak luntur saat ia sudah meninggalkan klub ini. Ia tak mampu membela klub manapun lainnya di Italia demi menghormati Juventus. Padahal, Milan, Napoli, dan sejumlah klub lainnya sudah menawarkan tempat untuknya, bahkan pada usianya yang sudah memasuki 38 tahun sekali pun. Tapi Ale memilih Sydney FC, klub antah barantah yang jauh, jauh sekali dari tanah kelahirannya. Ale memilih pergi jauh dari Italia dan mengikuti perkembangan Juventus dari tanah di seberang benua.

Saat ia dihengkangkan pula, fans mendesak agar nomor punggung 10 dipensiunkan untuk menghormati kebesaran dan loyalitas Del Piero. Hal ini serupa yang dilakukan Milan dengan nomor 3 Maldini dan 6 milik Franco Baresi. Tapi pada saat yang sama pula, Del Piero justru menjadi orang pertama yang menentang ide itu, meski dengannya ia akan mengecilkan namanya sendiri. Ada banyak anak-anak yang memimpikan nomor punggung itu, dan Juventus tidak boleh mematikan impian-impian itu, begitu alasan Del Piero.

Ale paham klub punya garis sejarah yang lebih panjang dari sekedar namanya sendir, dan arti Ale bagi klub tak akan luntur hanya karena persoalan nomor punggung dipensiunkan atau tidak. []

Facebook Comments
One Response
  1. Erte March 3, 2020 Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *