De Ligt, yang Terbaik dari Bintang Muda Dunia

Nyonya Tua – Senyum Mathijs De Ligt mengembang. Dalam balutan jas hitam yang elegam, Matthijs muda naik ke panggung dengan raut wajahnya yang gembira. Senin malam (2/112/2019), Matthijs menerima penghargaan Kopa Trophy 2019.

Kopa Trophy adalah penghargaan pemain muda terbaik dunia. Penghargaan ini diumumkan bersamaan dengan Ballon d’Or yang akhirnya dimenangkan oleh Lionel Messi. Adapun Ronaldo -yang bintang iklan Shopee itu- hanya berada di peringkat ketiag daftar pemain terbaik dunia musim ini, di bawah Messi dan Virgil van Dijk.

Kembali soal Kopa Trophi. De Ligt memenangkan penghargaan ini setelah mengalahkan nama-nama pemain muda berbakat lainnya. Dua saingan teratasnya adalah Joao Felix yang kini bermain di Atletico Madrid dan Jadon Sancho yang menjadi bintang bersama Borussia Dortmund.

Baca Juga:   Del Piero dan Sejumput Kisah tentang Loyalitas

Adapun beberapa nama lainnya yang juga dimoninasikan untuk penghargaan serupa antara lain  Kai Havertz (Bayer Leverkusen), Lee Kang-in (Valencia), Vinicius Junior (Real Madrid), Matteo Guendouzi (Arsenal), Moise Kean (Juventus/Everton), Samuel Chukwueze (Villarreal), dan Andrei Lounine (Real Valladolid).

Tentu ada alasan mengapa De Ligt mengalahkan nama-nama itu. Dan alasan utamanya adalah apa yang ia tampilkan bersama Ajax musim lalu dan bersama Juventus dalam setengah musim ini.

Musim lalu, Ajax berhasil menembus semifinal Liga Champion, sesuatu yang tak mereka capai selama dua dekade sebelumnya. De Ligt menjadi salah satu alasan mengapa Ajax bisa melaju sejauh itu dan pada akhirnya direkrut oleh Juventus.

Baca Juga:   Calon Bintang Baru Kita Itu Bernama Tonalli

Di Juve, De Ligt memang sempat kesulitan di awal musim. Namun itu sebenarnya bukan hal yang mengejutkan. Ia berada di liga baru, dengan bahasa baru, rekan-rekan baru, gaya permainan sepak bola yang baru, dan segal hal yang baru dan asing lainnya.

Tapi sebagaimana selayaknya seorang pejuang, De Ligt mampu menghadapi kondisi terburuk itu.

Mungkin masih segar di ingatan Juventini tentang blunder-blunder yang dilakukan De Ligt pada awal musim. Di Calderon saat menghadapi Atletico Madrid. Di Giuseppe Meazza saat menghadapi Inter. Dan di Turin sendiri saat berhadapan dengan Napoli.

Itu belum termasuk tangannya yang seolah mengandung magnet dan berulang kali menarik bola seperti yang terlihat pada sejumlah laga.

Baca Juga:   Preview Juve Vs Inter; Malam Pertaruhan Maurizio Sarri

Tapi De Ligt adalah seorang pejuang. Ia memperlihatkan itu di dalam lapangan. Determinasinya tak pernah turun. Bahkan dalam kondisi paling buruk sekali pun, ia masih tetap memperlihatkan potensi sebagai salah satu bek terbaik dunia.

Lalu kita mulai melihat De Ligt yang berbeda. De Ligt yang menjadi tembok di pertahanan Juve bersama Leo Bonucci. De Ligt yang menciptakan gol menentukan pada laga menghadapi Torino. Dan De Ligt yang tampil gemilang kendati dalam keadaan dislokasi bahu baru-baru ini.

Semua perjuangan itu terjawab sudah melalui penghargaan Kopa Trophy. Penghargaan bagi pemain terbaik dunia pada usia di bawah 21 tahun.

Hasil memang tak pernah khianat pada usahanya!

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *